Underground Ideology

Tulisan berikut pengalaman saya diajak untuk mengikuti ideologi yang menentang Pancasila dan NKRI di awal masa perkuliahan dulu, di sebuah PTN di Bandung. Ideologi yang bercita-cita mengganti Pancasila sebagai ideologi negara.

Berawal dari teman SMA (Y), mengajak bertemu untuk sekedar bersilaturahim. Kemudian dikenalkan dengan seseorang (X) untuk diskusi keagamaan atau pengajian yang dia sebut ‘mentoring’. Singkatnya, saya ikut mentoring. Di awal pemaparan, saya sangat tertarik, salut dengan pemahaman Al-Qur’an yang dia sampaikan. Tema yang disampaikan tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Materi disampaikan sangat runut dan mudah dipahami dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dengan tafsiran versi mereka. Kecurigaan saya berawal diakhir diskusi. Saya meminta tulisan / coretan materi yang disampaikan X, dia dengan sigap menolak dan langsung mengambil tulisan materi tersebut. Padahal hanya secarik kertas dan coretan-coretan yang ditulis selama diskusi. Pun ketika saya bertanya dari mana mendapatkan materi sebagus itu? Jawabannya tidak jelas.

Selesai diskusi, kecurigaan langsung disampaikan ke Y. Dia nampak kecewa, kemudian menelpon seseorang. Saya tambah curiga ketika Y mengaku dirinya dengan nama lain ke orang yang dia telepon.

Sepulang ke kost-an, saya ceritakan semua kejadian tadi ke teman kost. Ternyata, teman kost saya ini adalah mantan anggota kelompok pengajian underground (pengajian sembunyi-sembunyi yang sering disebut N11 atau NII). Kecurigaan saya ternyata benar, materi yang disampaikan X sama persis dengan materi yang diceritakan teman kost saya. Materi yang mengganggap Pancasila sebagai ideologi thogut yang bertentangan dengan paham yang dia anut. Materi yang berbeda dengan pemahaman Islam yang saya pahami selama ini. Materi yang berisi ideologi yang bertujuan mengkudeta NKRI menjadi negara berideologi ajaran mereka. Akhirnya saya tidak pernah mengikuti diskusi lagi, meski beberapa kali diajak.

Dia – teman kost – menceritakan lengkap proses awal ikut ideologi itu. Dari yang awalnya ragu hingga meyakini ideologi underground itu. Sasaran dakwah mereka mayoritas mahasiswa baru yang kelihatan baik alias bageur seperti saya hehe… :mrgreen: Metode pengajarannya yang selalu mencatut ayat Al-Qur’an sering berhasil mem-brain wash para mahasiswa baru, hingga berhasil di-bai’at dan menjadi bagian dari mereka. Bagian dari ideologi yang menganggap semua yang bukan kelompoknya -termasuk orang tua- tidak ber-iman. Tiap anggota diharuskan menyetor sejumlah uang untuk kepentingan perjuangan ideologinya, bagaimana pun caranya. Berbohong ke orang tua, menipu teman, dan berbagai cara lain bisa mereka lakukan. Dia juga bercerita bagaimana sulitnya keluar dari kelompok ideologi itu. Di awal menyatakan keluar, seringkali di teror, diancam dibunuh, dll.

Bukan kali itu saja saya diajak untuk mengikuti diskusi seperti itu, pernah juga diajak oleh seorang mahasiswi perguruan tinggi lain. Kenalan di bis, dia ngasih buku bacaan tentang perjuangan dan ajaran Kartosuwiryo, hingga ujung-ujungnya datang ke kost-an, ngajak diskusi untuk menyebarkan ideologinya. Namun, lagi-lagi saya teu kabawa ku sakaba-kaba. 🙄  Kala itu saya mengajak teman yang pernah kecebur ke dunia underground itu untuk menyangkal pendapatnya.

Cerita tak sampai disitu. Selesai kuliah, menikah, punya anak. Sekitar tahun 2012, ternyata pengajian underground kembali saya temui, saya diajak untuk mengikuti pengajian tertutup dirumah-rumah, metode penyampaiannya nyaris sama dengan yang saya dapat waktu kuliah dulu. Bedanya, saya lebih bisa menjawab & berargumen untuk tidak sependapat dengan mereka. Hingga akhirnya tak diajak lagi.

Sekarang sudah tidak ditemukan lagi pengajian-pengajian underground seperti itu didaerah kami, namun melihat masiv-nya gerakan mereka, kita harus tetap waspada, agar keluarga kita terhindar dari pemahaman tersebut. Agar kita bisa tetap merasakan Islam yang cinta damai, Islam not terrorist, Islam yang rahmatan Lil’aalamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *