Tidak Percaya MLM

Pernah ikut Multi Level Marketing (MLM)? Saya belum. 🙂 MLM pernah booming di Indonesia, saya mulai mendengar istilah ini  sejak SMA. Dimasa kuliah hingga baru-baru ini sudah beberapa kali diajak, pernah juga ikut semacam seminar yang isinya promosi, testimoni, dan ajakan ikut MLM. Tapi Alhamdulillah, hingga saat ini tidak pernah jadi member MLM. 

Maaf, tulisan ini bukan untuk mengajak, memprovokasi, atau menghalangi pebisnis MLM.  Hanya mencoba berpendapat. Bahkan saya meyakini para pecinta MLM akan semakin cinta, semakin bersemangat untuk menjalankan MLM-nya setelah membaca tuntas tulisan ini, apalagi bagi para member MLM yang lagi semangat-semangatnya.

Karena tulisan ini jauh tak sebanding dengan motivasi-motivasi yang diberikan para trainer MLM, tak sebanding dengan tulisan testimoni atau testimoni langsung para member yang telah menyatakan keberhasilannya, meski itu entah benar atau tidak hehe… Tapi saya yakin, banyak juga yang sependapat.

Kenapa tidak percaya MLM? Sebenarya jika anda googling banyak sekali tulisan yang menganjurkan untuk tidak ikut bisnis MLM, dan berikut ini adalah versi saya, hasil pengamatan & penelitian tanpa riset (kumaha penelitian tanpa riset? :mrgreen: ) ke teman-teman, dan lingkungan sekitar. Orang tua bahkan kakek saya termasuk diantara yang pernah jadi korban ikut MLM.

Berikut beberapa alasan kenapa bisnis MLM tak layak diikuti:

  1. Tidak ada orang sukses dari bisnis MLM. Ini sepengetahuan saya, bisa saja diluaran ada MLM-er yang sukses. Atau mengklaim sukses. Sukses itu relatif, tapi semua yang saya kenal pernah ikut MLM tidak ada yang sukses lama dibidang itu. Jika pun berhasil dan sukses, justru setelah bebas dari MLM.
  2. Penuh kebohongan. Saya melihat pelaku MLM penuh kebohongan, PeHaPe only, dan ini banyak tidak disadari oleh para membernya. Penuh kebohongan bukan berarti para membernya pembohong, tapi para member yang dibohongi pelaku-pelaku MLM, tanpa ia sadari ketika para member mengajak calon member berarti sedang menyebarkan kebohongan itu. Jenis kebohongannya? Menawarkan mendapatkan uang banyak, MLM lebih baik dari bisnis atau pekerjaan lain, mudahnya meraih sukses dalam MLM, mudah dijalankan dalam waktu luang, pemasaran jaringan cara paling efektif menawarkan produk, menawarkan kebahagiaan, kepuasan, kekayaan, kebaikan dalam hidup, dan masih sangat buuaaanyak yang ditawarkan, yang hampir semua itu tidak benar-benar dirasakan oleh si-pengajak sendiri.
  3. Merusak mental. Orang yang ikut MLM hampir dapat dipastikan karena terbuai janji, atau cerita member lain yang lebih dulu masuk. Mereka tertarik karena terobsesi pada keuntungan yang akan didapat, hal ini menjadikan para member sangat agresif promosi, menawarkan MLM kepada siapa saja, baik yang dikenal atau tidak, yang penting dapat member baru sebanyak-banyaknya. Kadang saya melihat orang yang sudah keranjingan MLM seperti lupa daratan. Tiap ada kesempatan: ngumpul, bertemu siapa saja, dimana saja, dalam situasi apapun, ujung-ujungnya menawarkan sesuatu dan ngajak gabung MLM. Hebatnya, pecinta MLM pasti akan mudah tertarik ketika ditawari MLM jenis baru, berbagai alasan dia ungkapkan: yang ini beda, ini lebih prospektif, lebih menguntungkan, lebih mudah dijalankan, dan berbagai alasan lain, padahal di MLM-MLM sebelumnya dia sudah beberapa kali tidak berhasil atau gagal. Berdasar fenomena ini saya berpendapat MLM telah berhasil merubah pola pikir para membernya, atau bahkan telah berhasil mencuci otak dan merusak mental member-membernya. Mental meraih sukses hanya dengan MLM, jauh dari inovasi dan kreasi diluar MLM yang bisa lebih menguntungkan.

Itu tiga alasan utama saya tidak percaya MLM. MLM bukan tempat bisnis yang tepat. Ikut MLM sama dengan ngudag-ngudag kalangkang heulang. Mengharapkan sesuatu yang jauh kemungkinan terlaksana. Perusahaan-perusahaan MLM yang dulu sempat booming-pun sudah mulai tenggelam, atau bahkan bangkrut. Kalau ada yang mengatakan, ini MLM-nya beda, dengan sistem baru, lebih mudah, lebih bagus, serta iming-iming lainnya, itu hanya trik pelaku MLM lama agar tetap bisa eksis di MLM baru dan agar terkesan sangat menarik.

Dari pada sibuk ber-MLM, mending merintis bisnis pribadi, jika berhasil akan lebih memuaskan, kalau belum berhasil jadikan pembelajaran. Jika perlu terapkan ilmu marketing MLM yang pernah didapat. Tidak pantang menyerah. Coba perhatikan beberapa teman atau siapa saja dilingkungan sekitar yang pernah beberapa kali ikut MLM, teman saya bahkan ada yang sudah belasan tahun ikut aneka jenis MLM dan keadaannya tidak terlalu banyak berubah, jika waktu selama itu digunakan untuk mengembangkan usaha lain dengan semangat MLM yang ia tekuni, hasilnya mungkin akan beda. Teladani semangat pantang menyerahnya, terapkan di bisnis pribadi, sertai dengan do’a, tambah pengetahuan dengan membaca, banyak sharing, bergabung dengan komunitas atau grup-grup usaha untuk nambah motivasi, baik langsung atau di sosmed.

#Salamhaneut #Piss

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *