Politik Kuring

Kamu milih siapa? Jangan milih si A! Si B bagus loh, dari pada si C yang bla..bla…bla… Pernah mendengar atau membaca kalimat seperti itu?. Saya sih sering. Pembicaraan politik seperti itu sudah menjadi hal biasa kita jumpai, karena politik mau tidak mau sudah menjadi bagian dari kita. Walau bagi saya, politik sesuatu yang kurang menarik. Karenanya, kami di keluarga sangat jarang ngebahas politik.

Jarang membahas politik bukan berarti apatis. Saya tetap memiliki sikap politik. Sikap politiknya? Netral. Netral bukan Golput. Saya belum pernah golput. Hampir golput, pernah. Memilih netral karena merasa sangat nyaman dengan sikap ini, selain karena mau tidak mau – sebagai ASN – harus netral (UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN).

Saking jarangnya kami membahas politik dirumah, saking netralnya, saya beberapa kali beda pilihan dengan istri. Pada pemilu legislatif lalu misalnya, kami hanya sama pilihan dalam memilih caleg DPRD Kabupaten. Demikian juga waktu pemilu gubernur, kami pernah beda pilihan. Beda pilihan diketahui pasca proses pemilihan, saya biasanya yang duluan nanya, “Tadi milih siapa Cin?” hmm… 

Pernah beberapa kali ada yang nanya dan minta saran, pada Pilpres dan Pilgub lalu misal, semua saya jawab “yang disenangi bapak/ibu we…, saha? yang visi-misinya paling hebring“. Dan ternyata dari beberapa yang konsul , sebenarnya sudah punya pilihan sendiri. Padahal diawal biasanya bertanya serius, “Saya kudu milih saha?”. Tuh, kan… 🙂

Bagaimana dengan keluarga kami yang lain? Tentunya beda juga. Ada yang  netral, jadi timses, partisan parpol, bahkan ada juga yang keukeuh golput. 

Salam haneut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *