Gempa saat Salat

Anda pasti sudah melihat video atau minimal mendengar kabar Imam masjid di Bali yang tetap mempertahankan salatnya saat gempa Lombok pada Minggu (5/8/18) lalu. Banyak orang – termasuk saya – kagum dengan kegigihan sang imam. Apalagi saya pernah mengalami kejadian serupa beberapa tahun silam.

Gempa Lombok memang menyisakan banyak kisah, ribuan mengungsi, ratusan korban meninggal – semoga mendapat tempat terbaik disisi-Nya, keluarga yang ditinggal diberi ketabahan. Aamiin. Diantara kabar duka gempa Lombok, ada tayangan viral dari siaran langsung pelaksanaan ibadah salat salah seorang akun facebook dari Masjid As-Syuhada Bali yang tetap mempertahankan salatnya meski gempa mengguncang, padahal beberapa makmum lebih memilih membatalkan salat. Saking viralnya, beberapa media mancanegara pun ikut mewartakan. Da’i kondang seperti KH. Abdullah Gymnastiar, Ustaz Yusuf Mansur pun tak ketinggalan ikut mengomentari dan mengungkapkan kekagumannya. Belakangan diketahui nama imam itu adalah Arafat.

Seperti diungkapkan diawal, saya pernah juga mengalami kejadian serupa. Kejadian gempa mengguncang pas ketika berjamaah salat di masjid. Waktu pasti kejadiannya lupa, sekitar tahun 2007 atau 2008. Masih di-rakaat pertama salat asar, gempa mengguncang. Bedanya dengan kejadian di masjid As-Syuhada Bali, salat langsung bubar, kami berhamburan keluar masjid, termasuk imam. Saya bahkan sampai loncat jendela, imam juga loncat jendela hehe… :mrgreen: padahal gempa tak sebesar gempa Lombok kemarin, dan tidak merusak apapun. Kami mengulang salat paska gempa. Paniknya kami kala itu, sepertinya salah satu effek dari gempa tsunami setahun sebelumnya. Jika mengingat hal itu, ketika berkumpul, berbincang santai, kejadian itu selalu menjadi bahan tertawaan kami.

Lantas apa boleh membatalkan salat saat kejadian gempa? Maaf kalau salah, meski pada dasarnya haram hukumnya membatalkan salat kecuali karena uzur, tapi ada hal lain yang membolehkan membatalkan salat, seperti: kekhawatiran terhadap keselamatan diri sendiri, kekhawatiran atas keselamatan harta, dan menyelamatkan orang lain yang butuh pertolongan segera. Lebih jelasnya tanya ustaz ya hehe…

Jadi, stop bully kepada makmum yang membatalkan salat saat kejadian gempa kemarin. Prihatin melihat komen media sosial yang mem-bully mereka.

Berikut video imam masjid yang lebih mempertahankan salat:

2 Komentar


  1. Saya termasuk orang yg trauma akan gempa..hingga lagi tidur nyenyak pun pasti terbangun walau tak seberapa besar gempa nya. Apalagi ketika sholat..karena masih disadari kekurang khusyuan saat menjalankannya….ada gempa spontan bubaar..astagfirulloh..kumahakeun atuuh taah pa dedekus..he.he

    Balas

    1. Idem atuh…. hehe…
      Yg penting tetap berusaha memperbaiki diri nya bu…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *