Berebut CPNS

PNS

Saat ini, Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) masih menjadi salah satu pekerjaan impian sebagian masyarakat Indonesia. Membludaknya peminat pendaftar CPNS, demonstrasi pegawai honorer berharap diangkat jadi CPNS menjadi salah satu bukti.

Kenapa mesti PNS? Pastinya argumennya banyak. Selain karena penghasilan dan pandangan masyarakat, diantaranya karena lulusan pendidikan. Maksudnya, pendidikan yang ditempuh mengarah ke pekerjaan utama sebagai PNS. Misal, lulusan fakultas keguruan dipersiapkan jadi guru. Pekerjaan pendidik atau guru itu yang paling kelihatan menjanjikan ya guru PNS. Meski banyak juga guru non PNS yang berpenghasilan cukup, tapi tetap saja PNS masih menjadi terfavorit, karena mayoritas guru non PNS berpenghasilan jauh dibawah guru PNS. Pun demikian dengan lulusan-lulusan pendidikan profesi lain seperti dibidang kesehatan: perawat, bidan, dan yang lainnya.

Saya pernah merasakan menjadi pemburu CPNS. Berkali-kali tes, karena dulu tiap departemen atau kementerian melakukan pendaftaran CPNS dengan waktu yang berbeda. Jadi dalam setahun kita bisa mengikuti tes CPNS beberapa kali. Setiap kali tes selalu penuh harap, ketika tidak diterima, kecewanya minta ampun. Saking kecewanya bisa seperti yang sakit mendadak. Mirip dengan orang patah hati. 🙄  Murung, mengurung diri di kamar, semangat turun drastis, ngedrop, dll. Itu terjadi berulang, berkali-kali. Kalau tidak salah 5 kali saya tes CPNS dan tidak diterima.

Kenapa sangat berharap CPNS? Kala itu saya merasa memiliki ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan untuk berbuat diluar keahlian. Saya yang lulusan fakultas keguruan, merasa tidak berdaya atau lebih tepatnya tidak percaya diri (PD) melakukan pekerjaan lain selain guru. Merasa tidak berdaya jika harus menjadi pengajar sukwan yang penghasilannya jauuuuuhhh…. dibawah guru PNS Hehe…. Padahal saat itu selain menjadi guru sukwan, saya juga membuka jasa rental dan pengetikan komputer, cetak foto digital, laminating, dll. Tapi tetap saja merasa tidak berdaya jika harus mengembangkan usaha itu, tidak PD jika usaha itu terus dijalani bisa berkembang, tidak berdaya jika harus menjalani usaha lain. Hingga tetap sangat berharap jadi PNS. Ketidakberdayaan dan ketidakpedean juga ditambah oleh sikap orang tua yang sama dengan saya, sangat berharap anaknya jadi PNS.

Meski akhirnya Alhamdulillah, harapan itu terkabul. Saya diterima dan diangkat PNS. Orang tua juga sama senangnya, bangga anaknya jadi PNS dengan jujur, bukan hasil sogok. :mrgreen: Saya juga sangat menikmatinya hehe…. Tapi tetap, merasa ada sesuatu yang kurang pas melihat fenomena berburu dan berebut CPNS saat ini. Terutama bagi yang kondisinya sama atau mirip dengan saya dulu, yang saking berharapnya menjadi PNS sampai ngedrop dan tak berdaya ketika tidak diterima.

Saya sependapat dengan Nazwa Sihab yang pesannya beredar di medsos belakangan ini “… Adik-adik remaja sekalian, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok-besok hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu.

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya. … … Apa cita-cita kalian? Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan-pekerjaan yang menakjubkan lainnya.  … Setinggi apapun jabatan kalian, jika masih PNS, karyawan BUMN, karyawan swasta, maka sejatinya tetap saja suruhan orang lain. Punya atasan, dan hidup kita laksana siklus dari bulan ke bulan, gajian ke gajian.

So, berhentilah hanya berharap jadi PNS. Lihat sekitar, banyak yang jauh lebih sukses tanpa harus jadi PNS, lihat juga hampir tidak ada konglomerat yang PNS. Wirausahawan atau entrepreneur, dan jenis pekerjaan lain pastinya bisa lebih menjanjikan jika dilakoni degan tekun dan seksama. Karena Bil Gates, Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Jeff Bezos, mereka bukan PNS. Hehe…

Salam haneut….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *