Aku Dokterku

Yang paling tahu kondisi kesehatan kita adalah kita sendiri. Kita sakit, tentunya karena kita merasakan itu. Sakit apa? Harusnya kita juga paling mengetahui, bukan orang lain, meski untuk mengetahui detil penyakit dan obatnya diperlukan seorang ahli– dokter – dibidangnya.

Sakit, setiap kita pastinya pernah merasakan. Setahu saya hanya Firaun laknatullah yang tidak pernah sakit selama hidupnya. Lainnya, pasti pernah sakit, Rasulullah sekalipun. Hanya intensitasnya yang beda-beda. Saya misal, dulu termasuk yang relatif sering sakit, terutama flu-pilek.

Sejak kecil saya termasuk yang kurang suka olah raga. Hal ini sepertinya menjadi salah satu faktor saya sering sakit. Ririwit ibu saya bilang. Ganti musim, flu.  Kehujanan, malamnya menggigil-demam. Lucunya lagi tiap menjelang ujian akhir semester – sejak SD hingga lulus SMA – hampir pasti flu-pilek. Sewaktu kuliah juga, flu-pilek masih saja rutin menerjang. Selain flu, dimasa SMP-SMA- S1, pernah juga mengalami sakit yang sama, typus. Masih ingat, wali kelas SMP datang kerumah karena saya sakit cukup lama, waktu SMA juga demikian. Ketika kuliah di Bandung, diantar sahabat pulang ke rumah orang tua di Pangandaran karena typus.

Bagaimana sekarang? Diawal-awal menikah, keadaan masih tidak terlalu berubah. Hampir tiap perubahan cuaca dan kehujanan, flu-pilek mengampiri. Setelah beberapa tahun menikah, punya anak, keadaan mulai berubah. Saya lebih jarang sakit. Ketika beberapa kali menghadapi UAS S2 baru-baru ini juga aman-aman saja, sehat. Alhamdulillah keadaan berubah hehe…. Sekali lagi “saya lebih jarang sakit”, bahkan sangat jarang. Iya, sangat jarang. Bukan tidak pernah. Artinya sekali-sekali flu-pilek masih menghampiri. 

Dulu, tiap sakit pasti ke dokter. Selain berobat sendiri, kadang mengantar istri, anak, ibu, ayah, bahkan kakek-nenek. Karena seringnya berkunjung ke dokter, akhirnya mengenal obatnya, mengenal dosisnya. Mengenal obat dan dosis yang biasa diberi dokter ketika saya atau keluarga sakit. Misal ketika flu-pilek, pasti diberi obat itu-itu juga, begitupun ketika demam.

Dari pengalaman seringnya berobat ditambah googling, saya mulai berani tidak mengonsumsi antibiotik yang diberi dokter ketika flu-pilek. Sekarang bahkan sudah hampir tidak pernah ke dokter ketika flu-pilek, dan demam. Sudah berani meminum antibiotik sampai habis tanpa resep dokter ketika demam tinggi. Seperti sekarang, ketika saya nulis ini, saya baru sembuh dari demam tinggi disertai gejala mual, pusing, hilangnya napsu makan, de-el-el.

Apakah yang saya lakukan berbahaya? Ya. Dokter manapun pasti menyarankan untuk tidak menganjurkannya. Karena bisa sangat berbahaya menggunakan obat dokter tanpa resep dokter. Saya juga tahu itu. Tapi khusus untuk saya, berdasar pengalaman yang sudah dipaparkan, karena sakitnya terus berulang, saya merasa: yang lebih tahu kondisi tubuh saya adalah saya sendiri. Pun ketika sakit, yang lebih tahu saya sakit adalah saya sendiri. Ya… obatnya pun tahu sendiri hehe…. (berapologi). Tapi, bukan untuk ditiru ya. Sekali lagi jangan ditiru, bahaya! Saya saja melakukan ini hanya untuk diri sendiri, tidak untuk keluarga apalagi orang lain. Itu pun hanya untuk beberapa gejala seperti: flu-pilek, demam, mual, dan sakit tenggorokan. Diluar itu? Gak berani. Apalagi saat ini saya merasa lebih sehat, lebih bugar, gejala-gejala tersebut sudah sangat jarang dirasa.

3 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *